Sabtu, 25 Januari 2020

SIKSAAN MANIS ITU RINDU NAMANYA

Mampirlah, dan tumpahkanlah.








SIKSAAN MANIS ITU RINDU NAMANYA

Kau tau kenapa aku susah tidur? Karena rindu yang terngiang ini menolak untuk dipejamkan. Sekalinya aku tertidur, rindu ini membentuk bayang-bayang nyata pada mimpi lelapku. Pada akhirnya, kembali akan memunculkan kerinduan baru. Sama saja, rindu itu menyiksa. Namun, jika ada siksaan yang nikmat dihalusinasikan, itulah rindu. Terkadang aku selalu ingin mengajakmu mampir ke singgasana hatiku. Main-mainlah disana. Hatiku memang tak mewah nan megah. Tapi disana, kau akan jumpai ribuan visual dirimu yang secara sengaja atau tidak telah kupajang di dinding-dinding memori yang orang sebut kenangan. Sampai kau sendiri bosan, mengapa harus selalu bayangmu sendiri yang muncul disana. Seperti aku, yang menikmati kebosanan itu. Hari demi hari, hujan demi hujan.
Berbicara hujan, aku meyakini bahwa yang turun dari langit bukanlah sekedar air. Tapi ada pecut kenangan yang turun bersamaan dengannya. Dalam hujan, orang-orang melamun di kejauhan. Dalam hujan, orang-orang merenung di kesepian. Dalam hujan, aku meninju wajahku sendiri dengan kerinduan.
Rindu tidak hanya muncul karena sulitnya sebuah temu. Tapi rindu juga bisa hadir karena sebuah keinginan yang tak enggan terwujud. Atau merasakan kembali apa yang sudah lama tak dirasa. Aku tau dalam setiap tatap kita terhalang oleh ruang dan waktu. Tapi dengan kebaikan do’a, kita sama-sama melambai pada rasa yang tersampaikan, meski kerap kita hirau dengan alibi khayalan. Maka begitu berengseknya seorang insan yang merindu, tetapi ia tak sedikitpun mengutip do’a pada apapun yang bisa ia tuangkan. Puisi, lagu, atau lamunan. Begitu jahatnya ia jika tak ada harap yang bisa termaktub dalam awang-awangnya.
Aku sepakat dengan judul buku dari seorang penulis. “Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas”. Aku sepakat betul. Karena jika tak segera dituntaskan, rindu akan membuat kita melayang bergentayangan. Mencari jawaban pasti akan teror-teror yang selalu hadir dalam lamunan, maupun impian. Terlelap dalam tidur atau tersentak dalam sadar, di isi kepala pasti akan selalu muncul bayang-bayang itu. Setidaknya, jika tidak dengan temu, harus ada sebuah momentum untuk meluapkan perasaan itu. Agar semuanya lega. Agar semuanya tak menjadikan beban pikiran yang dirasa harus diselesaikan. Karena merindu tanpa bertemu atau berucap, itu seperti sebuah lagu yang tercipta namun tak pernah dinyanyikan.
Tapi sialnya, kebanyakan rindu muncul saat kita merasakan kehilangan. Sepakat atau tidak, kembali pada kenyataan diatas. Rindu bisa juga hadir karena sebuah rasa ingin mengulang kembali apa yang pernah terjadi. Kebersamaan akan terasa begitu bermakna ketika kita merasakan kehilangan. Akan terasa begitu berharga ketika kita menjumpai takdir untuk bersua dengan perpisahan. Dan kehilangan, akan terasa bermakna saat kita saling merindukan. Bayang-bayang paling nyata yang menyiksa, adalah keinginan untuk memeluk dirinya di dunia nyata setelah kita menjumpainya dalam bayang mimpi atau khayal ketidaknyataan. Aku meyakini betul atas apa yang kulakukan. Semakin besar rasa rindu yang kuidap, semakin membusa juga do’a yang terucap. Meski hanya sekedar tatap, bayangan itulah yang akan hadir dan menetap. Tak hanya dalam mimpi yang tak nyata, ia menghantui pula saat aku membuka mata.
Aku adalah pria terlemah. Memimpikanmu sekali saja, membuatku terlihat lunak berkali-kali. Aku seperti orang gila yang kehilangan kewarasan. Atau aku seperti singa yang kehilangan keberanian. Terkadang aku malu pada diriku sendiri yang selalu tak berhasil menggawangi rindu. Tapi begitulah kenyataannya. Saat aku menutup mata, aku melihatmu, meski samar. Dan saat aku membuka mataku, aku merindukanmu, meski liar.
Aku selalu kalah oleh rindu. Karena ia begitu curang cara bermainnya. Bagaimana bisa aku tak menyebutnya curang, sedang ia selalu bertambah tanpa tahu cara untuk berkurang. Curang.
Sebagai makhluk sosial, kita memang tak bisa hidup sendirian. Terkadang kita butuh kehadiran orang-orang tertentu untuk mengurangi rasa jemu. Tak harus dengan temu, asalkan bisa mereda candu, itu dirasa sudah cukup menekan rindu. Rindu tak harus dengan orang spesial. Dengan dosa saja, kita bisa merasakan rindu.  Seperti aku yang merindukan masa muda, padahal aku tau betul bahwa masa mudaku mengandung banyak khilaf dan lupa.
Bahagia itu pilihan. Rindu itu batu loncatan. Jika kau bahagia saat memeluk dan membayangkan kerinduanmu, berarti kau telah siap dengan ketidakmampuanmu. Sebab kau memilih untuk tetap tinggal di batu loncatan. Ingat, itu pilihan. Semoga kita baik-baik saja dengan segala pilihan yang kita buat.

  Bandung Kulon,
  25, Januari 2020

  -Fakhri N. Asmah-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar