Sabtu, 25 Januari 2020

MEWUJUDKAN KEHIDUPAN SOSIAL YANG DAMAI DALAM KEBERAGAMAN MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER

Mampirlah, dan tumpahkanlah.




MEWUJUDKAN KEHIDUPAN SOSIAL YANG DAMAI DALAM KEBERAGAMAN MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER 



Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri atas berbagai suku bangsa, bahasa, dan agama. Pada era pra kemerdekaan nenek moyang kita dahulu hanya mengenal Sumatera, Jawa, Borneo, Sulawesi, dan seterusnya. Belum ada ikatan persatuan yang dinamakan Indonesia meskipun gaungnya mulai menggema mendekati era kemerdekaan. Sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara membuktikan bahwa kita mampu mendirikan entitas negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) adalah dengan persatuan.
Kesadaran berbangsa dan bernegara mulai tumbuh ketika rakyat merasakan pedihnya menjadi manusia yang terjajah oleh bangsa lain. Sehingga egosentris sukuisme mulai sedikit banyak luntur demi kemerdekaan bangsa. Pada akhirnya kita mampu meraih kemerdekaan dengan mengusir penjajah dari bumi nusantara. Semua itu berkat semangat kebersamaan, persatuan dan kesatuan. Namun di era pasca kemerdekaan hingga sekarang ini, tidak dapat dihitung berapa jumlah pasti peristiwa konflik yang terjadi di Indonesia. Perang antar kampung beda etnis, perseteruan antar kelompok ideologi, pertikaian pemuda lintas agama, dan masih banyak lagi sejarah kelam konflik bangsa ini yang bersumber pada akar perbedaan suku, ras, agama, dan golongan.
Apa sebenarnya yang terjadi pada bangsa kita setelah kemerdekaan yang telah berhasil kita raih dengan bibit persatuan? kemana persatuan dan kesatuan bangsa yang selama ini telah ditumbuhkan oleh nenek moyang kita dahulu? Kita semua tentu menyadari tak ada satupun yang bisa merubah sejarah kelam konflik antar saudara sebangsa. Kita juga tak akan sudi jika bangsa kita selalu saja menjadi bahan tontonan bangsa lain ketika kita sibuk berseteru. Oleh karenanya kita perlu menatap masa depan dengan penuh harapan bahwa bangsa kita bisa tetap bersatu dan bersaudara dalam keberagaman. Salah satu caranya adalah dengan menanamkan nilai-nilai toleransi, semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan peduli sosial terhadap anak-anak bangsa penerus masa depan negara kita.
Pertanyaannya adalah apa yang harusnya kita lakukan sebagai orang tua untuk menanamkan nilai-nilai yang diperlukan agar bangsa kita dapat bersatu di masa depan? Jawaban yang paling masuk akal adalah dengan konsep pendidikan. Konsep pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan karakter. Pendidikan karakter ini memuat delapan belas nilai positif yang diantaranya adalah nilai-nilai toleransi, semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan peduli sosial. Nilai-nilai inilah yang diperlukan untuk mewujudkan kehidupan yang damai, bersatu, rukun, dan saling menghargai dalam keberagaman. Serta rasa untuk tidak merasa unggul atas perbedaan diri dengan lainnya akan membentuk mental saling menghargai.
Nilai toleransi dibutuhkan untuk menanamkan sifat saling menghargai, menghormati, dan tenggang rasa bagi sesama. Meskipun berbeda suku, agama, warna kulit, dan lain sebagainya. Jika toleransi antar umat beragama, suku, dan lainnya dapat dibangun maka selanjutnya diteruskan dengan semangat kebangsaan dengan kesadaran bahwa kita adalah satu bangsa dan tanah air. Jika toleransi, semangat kebangsaan, dan cinta tanah air telah terdoktrin dalam jiwa anak-anak kita maka yang berikutnya adalah kepedulian sosial antar sesama manusia. Jika kesemua aspek tersebut dapat diwujudkan, maka bukan mustahil jika di masa depan kita semua dapat hidup berdampingan dalam keberagaman tanpa adanya rasa benci dan permusuhan satu dengan lainnya.



  Bandung Timur,
  08, September 2019


  -Fakhri N. Asmah-

ANGKAT MINUMANMU

Mampirlah, dan tumpahkanlah.



ANGKAT MINUMANMU


Tidur bersama serakan sampah saja nona
Kita semua sama-sama hina
Tak ada kicauan burung pada hatimu
Setiap ucap sayang terdengar muak di telingamu

Lupakan sejenak semua ingin
Berkawanlah dengan gelap serta dingin
Masalah biar mengepul di udara
Sedihmu juga sementara

Sadarilah bahwa perutmu sudah terkikis
Dan malam terlalu larut untuk kau beri tangis
Persetan dengan validasi
Kelak yang hilang bereinkarnasi

Gagal itu biasa
Tetaplah hidup meski putus asa
Jangan lupakan sarang
Kau kan temukan jalan pulang


  Kota Bandung,
  18, Januari 2020


  -Nicky Livya S.-

JERIT AKSARA

Mampirlah, dan tumpahkanlah.





JERIT AKSARA

Darimana bintang-bintang itu mendapatkan cahayanya?
Aku hendak meminta, lalu kuberikan pada tunawisma di pinggir kota.
Darimana purnama mendapatkan indahnya?
Aku hendak meminta, dan kutebar pada ladang sawah agar para petani itu selalu berbahagia.
Andai saja para bangsat yang bernama birokrat itu mencuri untuk kepentingan rakyat.
Andai saja para unggas yang memakai jas itu mendengar tangis para jelata yang memelas.
Dasi didapatkan dengan mudahnya hanya dengan basa-basi.
Sedang mereka yang mengembara tetap saja sengsara.

  Kota Bandung,
  22, Januari 2020

  -Nicky Livya S.-

PROSES-PROSES BERULANG DALAM EVOLUSI SOSIAL BUDAYA

Mampirlah, dan tumpahkanlah.






PROSES BERULANG DALAM EVOLUSI SOSIAL BUDAYA





Perhatian terhadap proses-proses berulang dalam evolusi  sosial-budaya, belum lama mendapat perhatian dari ilmu antropologi. Perhatian itu sebenarnya timbul bersama dengan perhatian ilmu antropologi terhadap faktor individu dalam masyarakat, yaitu sejak masa sekitar 1920. Sebelum tahun 1920, sebagian besar dari para sarjana antropologi hanya memperhatikan adat-istiadat yang lazim berlaku dalam suatu masyarakat yang menjadi objek penelitiannya. Sikap, perasaan, dan tingkah laku khusus para individu dalam masyarakat tadi yang mungkin saja bertentangan dengan adat istiadat yang lazim, diabaikan saja atau tidak mendapat perhatian layak. Tindakan individu warga masyarakat yang menyimpang dari adat istiadat umum seperti teruai sebelumnya, pada suatu ketika dapat banyak terjadi dan dapat sering berulang (recurrent) dalam kehidupan sehari-hari di setiap masyarakat di dunia. Memang, sikap  individu yang hidup dalam banyak masyarakat terutama adalah mengingat keperluan diri sendiri, dengan demikian ia sedapat mungkin akan mencoba menghindari adat atau aturan bila tidak cocok dengan keperluan pribadinya. Ini terpaksa kita akui dan dapat dilihat di sekitar kita sendiri atau dalam kehidupan masyarakat kita sendiri. Di seluruh dunia tidak ada suatu masyarakat yang semua warganya seratus persen taat kepada adat untuk selamanya. Kita mengerti bahwa justru keadaan-keadaan yang menyimpang dari adat ini sangat penting artinya, karena penyimpangan demikian merupakan pangkal dari proses-proses perubahan kebudayaan masyarakat pada umumnya.
            Sudah tentu masyarakat pada umumnya tidak membiarkan saja penyimpangan-penyimpangan dari warganya itu, dan itulah sebabnya pada tiap masyarakat ada alat-alat pengendalian masyarakat yang bertugas untuk mengurangi penyimpangan tadi. Masalah ketegangan antara keperluan individu dan masyarakat selalu akan ada dalam tiap masyarakat, dan walaupun ada kemungkinan bahwa ada suatu masyarakat yang tenang untuk suatu jangka waktu tertentu, tetapi pada suatu saat, tentu, ada juga berbagai individu yang membangkang, dan ketegangan-ketegangan masyarakat akan menjadi recurrent lagi. Akhirnya, kalau penyimpangan-penyimpangan tadi pada suatu ketika menjadi demikian recurrent sehingga masyarakat tidak dapat mempertahankan adatnya lagi, maka masyarakat terpaksa memberi konsekuensinya, dan adat serta aturan diubah sesuai dengan desakan keperluan-keperluan baru dari individu-individu dalam masyarakat. Tiap kali ada pengaduan, kepala adat akan memberi keputusannya menurut kebijaksanaannya, dengan mengingat situasi-situasi yang khusus dan keputusan-keputusan yang lalu. Kalau keputusan hokum adat terakhir ini dianggap sebagai keputusan yang sangat memuaskan dan tidak menimbulkan ketegangan lagi, maka keputusan itu akan menjadi suatu adat yang baru untuk masa selanjutnya, sampai pada suatu saat di hari kemudian terjadi penyimpangan baru, ketegangan baru, dan keputusan baru yang akan melahirkan adat baru pula.
            Perubahan-perubahan kecil serupa itu hanya dapat dilihat dengan peninjauan secara detail menggunakan “alat mikroskop” oleh para peneliti masyarakat, tidak akan tampak pada orang lain yang hanya meninjau masyarakat dari luar, dari jauh, atau yang memang membutakan diri untuk penyimpangan-penyimpangan yang kecil itu. Walaupun demikian dalam jangka waktu yang panjang, banyak perubahan kecil dalam adat-istiadat suatu masyarakat akan mulai tampak pula dari luar sebagai suatu perubahan yang besar.
            Faktor ketegangan antara adat-isitiadat dari suatu masyarakat dengan keperluan para individu didalamnya itu menyebabkan perlu adanya dua konsep yang harus dibedakan dengan tajam oleh para peneliti masyarakat, terutama para ahli antropologi dan sosiologi. Konsep antara dua wujud dari tiap kebudayaan, yaitu :
(1) kebudayaan sebagai suatu kompleks dari konsep norma-norma, pandangan-pandangan, dan sebagainya yang abstrak (yaitu sistem budaya).
(2) kebudayaan sebagai suatu rangkaian dari tindakan yang konkret dimana individu saling berinteraksi (yaitu sistem sosial). Kedua sistem tersebut sering ada dalam keadaan konflik satu dengan  lain, dan suatu pengertian mengenai konflik antara kedua sistem yang ada dalam tiap masyarakat itu menjadi pangkal untuk mencapai pengertian mengenai dinamika masyarakat pada umumnya.


  Bandung Kulon,
  16, Desember 2019

  -Fakhri N. Asmah-

SIKSAAN MANIS ITU RINDU NAMANYA

Mampirlah, dan tumpahkanlah.








SIKSAAN MANIS ITU RINDU NAMANYA

Kau tau kenapa aku susah tidur? Karena rindu yang terngiang ini menolak untuk dipejamkan. Sekalinya aku tertidur, rindu ini membentuk bayang-bayang nyata pada mimpi lelapku. Pada akhirnya, kembali akan memunculkan kerinduan baru. Sama saja, rindu itu menyiksa. Namun, jika ada siksaan yang nikmat dihalusinasikan, itulah rindu. Terkadang aku selalu ingin mengajakmu mampir ke singgasana hatiku. Main-mainlah disana. Hatiku memang tak mewah nan megah. Tapi disana, kau akan jumpai ribuan visual dirimu yang secara sengaja atau tidak telah kupajang di dinding-dinding memori yang orang sebut kenangan. Sampai kau sendiri bosan, mengapa harus selalu bayangmu sendiri yang muncul disana. Seperti aku, yang menikmati kebosanan itu. Hari demi hari, hujan demi hujan.
Berbicara hujan, aku meyakini bahwa yang turun dari langit bukanlah sekedar air. Tapi ada pecut kenangan yang turun bersamaan dengannya. Dalam hujan, orang-orang melamun di kejauhan. Dalam hujan, orang-orang merenung di kesepian. Dalam hujan, aku meninju wajahku sendiri dengan kerinduan.
Rindu tidak hanya muncul karena sulitnya sebuah temu. Tapi rindu juga bisa hadir karena sebuah keinginan yang tak enggan terwujud. Atau merasakan kembali apa yang sudah lama tak dirasa. Aku tau dalam setiap tatap kita terhalang oleh ruang dan waktu. Tapi dengan kebaikan do’a, kita sama-sama melambai pada rasa yang tersampaikan, meski kerap kita hirau dengan alibi khayalan. Maka begitu berengseknya seorang insan yang merindu, tetapi ia tak sedikitpun mengutip do’a pada apapun yang bisa ia tuangkan. Puisi, lagu, atau lamunan. Begitu jahatnya ia jika tak ada harap yang bisa termaktub dalam awang-awangnya.
Aku sepakat dengan judul buku dari seorang penulis. “Seperti dendam, rindu harus dibayar tuntas”. Aku sepakat betul. Karena jika tak segera dituntaskan, rindu akan membuat kita melayang bergentayangan. Mencari jawaban pasti akan teror-teror yang selalu hadir dalam lamunan, maupun impian. Terlelap dalam tidur atau tersentak dalam sadar, di isi kepala pasti akan selalu muncul bayang-bayang itu. Setidaknya, jika tidak dengan temu, harus ada sebuah momentum untuk meluapkan perasaan itu. Agar semuanya lega. Agar semuanya tak menjadikan beban pikiran yang dirasa harus diselesaikan. Karena merindu tanpa bertemu atau berucap, itu seperti sebuah lagu yang tercipta namun tak pernah dinyanyikan.
Tapi sialnya, kebanyakan rindu muncul saat kita merasakan kehilangan. Sepakat atau tidak, kembali pada kenyataan diatas. Rindu bisa juga hadir karena sebuah rasa ingin mengulang kembali apa yang pernah terjadi. Kebersamaan akan terasa begitu bermakna ketika kita merasakan kehilangan. Akan terasa begitu berharga ketika kita menjumpai takdir untuk bersua dengan perpisahan. Dan kehilangan, akan terasa bermakna saat kita saling merindukan. Bayang-bayang paling nyata yang menyiksa, adalah keinginan untuk memeluk dirinya di dunia nyata setelah kita menjumpainya dalam bayang mimpi atau khayal ketidaknyataan. Aku meyakini betul atas apa yang kulakukan. Semakin besar rasa rindu yang kuidap, semakin membusa juga do’a yang terucap. Meski hanya sekedar tatap, bayangan itulah yang akan hadir dan menetap. Tak hanya dalam mimpi yang tak nyata, ia menghantui pula saat aku membuka mata.
Aku adalah pria terlemah. Memimpikanmu sekali saja, membuatku terlihat lunak berkali-kali. Aku seperti orang gila yang kehilangan kewarasan. Atau aku seperti singa yang kehilangan keberanian. Terkadang aku malu pada diriku sendiri yang selalu tak berhasil menggawangi rindu. Tapi begitulah kenyataannya. Saat aku menutup mata, aku melihatmu, meski samar. Dan saat aku membuka mataku, aku merindukanmu, meski liar.
Aku selalu kalah oleh rindu. Karena ia begitu curang cara bermainnya. Bagaimana bisa aku tak menyebutnya curang, sedang ia selalu bertambah tanpa tahu cara untuk berkurang. Curang.
Sebagai makhluk sosial, kita memang tak bisa hidup sendirian. Terkadang kita butuh kehadiran orang-orang tertentu untuk mengurangi rasa jemu. Tak harus dengan temu, asalkan bisa mereda candu, itu dirasa sudah cukup menekan rindu. Rindu tak harus dengan orang spesial. Dengan dosa saja, kita bisa merasakan rindu.  Seperti aku yang merindukan masa muda, padahal aku tau betul bahwa masa mudaku mengandung banyak khilaf dan lupa.
Bahagia itu pilihan. Rindu itu batu loncatan. Jika kau bahagia saat memeluk dan membayangkan kerinduanmu, berarti kau telah siap dengan ketidakmampuanmu. Sebab kau memilih untuk tetap tinggal di batu loncatan. Ingat, itu pilihan. Semoga kita baik-baik saja dengan segala pilihan yang kita buat.

  Bandung Kulon,
  25, Januari 2020

  -Fakhri N. Asmah-

Jumat, 24 Januari 2020

PENALTY ZONE

Mampirlah, dan tumpahkanlah.





PENALTY ZONE


Aku sadari betul bahwa usiaku tidak lagi muda. Sudah saatnya untukku menghentikan segala hura-hura. Menempa diriku menuju ke level yang satu tingkat lebih serius, sebab kenikmatan masa muda adalah fana. Jika terjebak dalam zonanya yang nyaman, mati kita menggigit telunjuk di hari tua. Hiburan pada dasarnya memang selingan. Saat kita lelah, saat kita bosan, saat kita diserang suntuk yang tak berkehabisan dalam hari-hari penuh kesibukan. Bukankah hiburan juga suatu kesibukan yang dikerjakan? Ya, memang betul. Tapi ada kesibukan yang lebih bernilai dari sekedar hiburan. Aku pernah menulis beberapa butir kalimat di sebuah linimasa sosial media. “Terkadang beberapa manusia lebih memilih diam dalam kekalahannya oleh zona nyaman, yang justru itu akan membawa mereka ke arah mati. Aku lebih suka menyebutnya dengan sebutan ‘Penalty Zone’.
Hujan turun deras malam ini. Kompak dengan tangismu yang pecah juga malam ini. Entah karena menangisi agungnya keresahan yang diungkapkan padaku, atau karena menangisi rasa kecewa yang tak mampu meluap sehabis responku keluar saat ceritamu tertutur. Tepat saat sebelumnya kita mempertemukan dua rasa rindu yang kita sepakati untuk dituntaskan dengan sebuah temu. Satu sampai dua jam kita bersua dan bercerita penuh canda. Meski awalnya kata maafku lah yang pertama muncul sebab aku terlambat menemuimu. Setelah semua itu, di satu momentum, kau meminta izin untuk mencurahkan keresahan yang kerap kau idap bermalam-malam. Aku mengizinkan, aku mendengarkan. Tapi reaksiku begitu berlebihan. Aku berbicara penuh semangat, yang tak hanya menyemangati, tapi juga mungkin kau bisa menilaiku sebagai motivator gadungan, yang dalam pandangmu menerka-nerka isi pikiranku saat itu. Jelas, di lain sisi, ada tamparan keras menghujam kenyataan. Bahwa aku disadarkan oleh keresahan orang lain, bukan keresahan yang muncul dari dalam diriku. Sang motivator gadungan tunggang langgang mendapati lawan bicaranya mengungkap keresahannya, yang mana keresahan itu harusnya menjadi keresahanku juga. Aku harus cepat sadar dari bicaraku yang makin melebar.
Tak lain tak bukan adalah soal hubungan yang sudah lama usianya. Yang harus segera diseriuskan. Tapi apa daya, cambukan itu kenyataannya berhasil memecah batu dalam alam sadarku. Bahwa aku juga harus beranjak dari diriku yang sekarang. Aku harus siap menjadi apa, dan menjadi siapa untuk bisa tampil di depan keluarganya. Jelas aku iri dan kalah besar dengan kebanyakan orang yang berada pada posisi siap mempersunting kekasihnya. Jika aku yang sekarang berbicara masa depan itu, suram jadinya jika kuteruskan dengan reputasi dan kemapanan yang terbata-bata. "Aku adalah pria yang menolak kemapanan" ternyata hanyalah alibi belaka dari realita yang rupanya berkata "aku adalah pria sampah yang tak bisa meniti karir hingga mapan." Aku terjebak dalam ‘Penalty Zone’ itu sendiri. Kenapa aku terinspirasi untuk membuat istilah itu? Karena aku mengalaminya. Sampai saat ini. Zona nyaman dan kehura-huraan masih menjadi teror yang nikmat untuk dijalankan.
Aku menjaga spiritnya. Aku memotivasinya untuk terus bangkit dan tidak termakan keresahan. Keyakinan yang dari dulu dirajut dan saat ini hampir pudar, haruslah diganti dengan keyakinan baru yang menyatakan bahwa hari ini aku telah siap, dan hari ini aku telah cukup memadai untuk depertemukan, atau mempertemukan.
Sepulangnya dari situ, sepanjang perjalananku hanyalah mengawang cambukan keresahan baru. Ya, aku juga harus segera membangkitkan diri. Berhijrah dari kedunguanku menikmati zona nyaman, ke suatu perubahan yang membuat aku terlihat mapan. Aku harus meniti karir dari sekarang. Aku harus menjadi pria yang menikmati kemapanan karena kesiapan. Bukan karena titipan.
Tapi keresahan tetaplah keresahan. Yang meluapkan akan tetap mengisak tangis, dan yang mendengarkan akan tetap teriris. Malam hanya menjadi lamunan. Selain tak ada lagi yang bisa kulakukan dari sekarang, tulis-menulislah yang kini menjadi pelampiasan. Dibawah hujan yang masih turun, ada do’a yang kupanjatkan berlantun. Dibawah malam yang anginnya dingin, ada harap yang kuimpikan terjalin. Dibawah bulan yang malu-malu karena awan hujan, ada titik-titik takdir yang kuharap bisa sejalan. Dan dibawah tangismu yang mungkin masih belum mereda, ada belaian tanganku yang terasa lewat udara.
Orang-orang banyak yang bilang padaku, bahwa mereka suka mendalami kepedihan untuk merasakan manisnya pembelajaran. Tapi nyatanya, dalam hujan mereka berteduh tak berkemampuan.


  
  Bandung Kulon,
  24, Januari 2020

-Fakhri N. Asmah-