Sabtu, 25 Januari 2020

PROSES-PROSES BERULANG DALAM EVOLUSI SOSIAL BUDAYA

Mampirlah, dan tumpahkanlah.






PROSES BERULANG DALAM EVOLUSI SOSIAL BUDAYA





Perhatian terhadap proses-proses berulang dalam evolusi  sosial-budaya, belum lama mendapat perhatian dari ilmu antropologi. Perhatian itu sebenarnya timbul bersama dengan perhatian ilmu antropologi terhadap faktor individu dalam masyarakat, yaitu sejak masa sekitar 1920. Sebelum tahun 1920, sebagian besar dari para sarjana antropologi hanya memperhatikan adat-istiadat yang lazim berlaku dalam suatu masyarakat yang menjadi objek penelitiannya. Sikap, perasaan, dan tingkah laku khusus para individu dalam masyarakat tadi yang mungkin saja bertentangan dengan adat istiadat yang lazim, diabaikan saja atau tidak mendapat perhatian layak. Tindakan individu warga masyarakat yang menyimpang dari adat istiadat umum seperti teruai sebelumnya, pada suatu ketika dapat banyak terjadi dan dapat sering berulang (recurrent) dalam kehidupan sehari-hari di setiap masyarakat di dunia. Memang, sikap  individu yang hidup dalam banyak masyarakat terutama adalah mengingat keperluan diri sendiri, dengan demikian ia sedapat mungkin akan mencoba menghindari adat atau aturan bila tidak cocok dengan keperluan pribadinya. Ini terpaksa kita akui dan dapat dilihat di sekitar kita sendiri atau dalam kehidupan masyarakat kita sendiri. Di seluruh dunia tidak ada suatu masyarakat yang semua warganya seratus persen taat kepada adat untuk selamanya. Kita mengerti bahwa justru keadaan-keadaan yang menyimpang dari adat ini sangat penting artinya, karena penyimpangan demikian merupakan pangkal dari proses-proses perubahan kebudayaan masyarakat pada umumnya.
            Sudah tentu masyarakat pada umumnya tidak membiarkan saja penyimpangan-penyimpangan dari warganya itu, dan itulah sebabnya pada tiap masyarakat ada alat-alat pengendalian masyarakat yang bertugas untuk mengurangi penyimpangan tadi. Masalah ketegangan antara keperluan individu dan masyarakat selalu akan ada dalam tiap masyarakat, dan walaupun ada kemungkinan bahwa ada suatu masyarakat yang tenang untuk suatu jangka waktu tertentu, tetapi pada suatu saat, tentu, ada juga berbagai individu yang membangkang, dan ketegangan-ketegangan masyarakat akan menjadi recurrent lagi. Akhirnya, kalau penyimpangan-penyimpangan tadi pada suatu ketika menjadi demikian recurrent sehingga masyarakat tidak dapat mempertahankan adatnya lagi, maka masyarakat terpaksa memberi konsekuensinya, dan adat serta aturan diubah sesuai dengan desakan keperluan-keperluan baru dari individu-individu dalam masyarakat. Tiap kali ada pengaduan, kepala adat akan memberi keputusannya menurut kebijaksanaannya, dengan mengingat situasi-situasi yang khusus dan keputusan-keputusan yang lalu. Kalau keputusan hokum adat terakhir ini dianggap sebagai keputusan yang sangat memuaskan dan tidak menimbulkan ketegangan lagi, maka keputusan itu akan menjadi suatu adat yang baru untuk masa selanjutnya, sampai pada suatu saat di hari kemudian terjadi penyimpangan baru, ketegangan baru, dan keputusan baru yang akan melahirkan adat baru pula.
            Perubahan-perubahan kecil serupa itu hanya dapat dilihat dengan peninjauan secara detail menggunakan “alat mikroskop” oleh para peneliti masyarakat, tidak akan tampak pada orang lain yang hanya meninjau masyarakat dari luar, dari jauh, atau yang memang membutakan diri untuk penyimpangan-penyimpangan yang kecil itu. Walaupun demikian dalam jangka waktu yang panjang, banyak perubahan kecil dalam adat-istiadat suatu masyarakat akan mulai tampak pula dari luar sebagai suatu perubahan yang besar.
            Faktor ketegangan antara adat-isitiadat dari suatu masyarakat dengan keperluan para individu didalamnya itu menyebabkan perlu adanya dua konsep yang harus dibedakan dengan tajam oleh para peneliti masyarakat, terutama para ahli antropologi dan sosiologi. Konsep antara dua wujud dari tiap kebudayaan, yaitu :
(1) kebudayaan sebagai suatu kompleks dari konsep norma-norma, pandangan-pandangan, dan sebagainya yang abstrak (yaitu sistem budaya).
(2) kebudayaan sebagai suatu rangkaian dari tindakan yang konkret dimana individu saling berinteraksi (yaitu sistem sosial). Kedua sistem tersebut sering ada dalam keadaan konflik satu dengan  lain, dan suatu pengertian mengenai konflik antara kedua sistem yang ada dalam tiap masyarakat itu menjadi pangkal untuk mencapai pengertian mengenai dinamika masyarakat pada umumnya.


  Bandung Kulon,
  16, Desember 2019

  -Fakhri N. Asmah-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar