Jumat, 24 Januari 2020

PENALTY ZONE

Mampirlah, dan tumpahkanlah.





PENALTY ZONE


Aku sadari betul bahwa usiaku tidak lagi muda. Sudah saatnya untukku menghentikan segala hura-hura. Menempa diriku menuju ke level yang satu tingkat lebih serius, sebab kenikmatan masa muda adalah fana. Jika terjebak dalam zonanya yang nyaman, mati kita menggigit telunjuk di hari tua. Hiburan pada dasarnya memang selingan. Saat kita lelah, saat kita bosan, saat kita diserang suntuk yang tak berkehabisan dalam hari-hari penuh kesibukan. Bukankah hiburan juga suatu kesibukan yang dikerjakan? Ya, memang betul. Tapi ada kesibukan yang lebih bernilai dari sekedar hiburan. Aku pernah menulis beberapa butir kalimat di sebuah linimasa sosial media. “Terkadang beberapa manusia lebih memilih diam dalam kekalahannya oleh zona nyaman, yang justru itu akan membawa mereka ke arah mati. Aku lebih suka menyebutnya dengan sebutan ‘Penalty Zone’.
Hujan turun deras malam ini. Kompak dengan tangismu yang pecah juga malam ini. Entah karena menangisi agungnya keresahan yang diungkapkan padaku, atau karena menangisi rasa kecewa yang tak mampu meluap sehabis responku keluar saat ceritamu tertutur. Tepat saat sebelumnya kita mempertemukan dua rasa rindu yang kita sepakati untuk dituntaskan dengan sebuah temu. Satu sampai dua jam kita bersua dan bercerita penuh canda. Meski awalnya kata maafku lah yang pertama muncul sebab aku terlambat menemuimu. Setelah semua itu, di satu momentum, kau meminta izin untuk mencurahkan keresahan yang kerap kau idap bermalam-malam. Aku mengizinkan, aku mendengarkan. Tapi reaksiku begitu berlebihan. Aku berbicara penuh semangat, yang tak hanya menyemangati, tapi juga mungkin kau bisa menilaiku sebagai motivator gadungan, yang dalam pandangmu menerka-nerka isi pikiranku saat itu. Jelas, di lain sisi, ada tamparan keras menghujam kenyataan. Bahwa aku disadarkan oleh keresahan orang lain, bukan keresahan yang muncul dari dalam diriku. Sang motivator gadungan tunggang langgang mendapati lawan bicaranya mengungkap keresahannya, yang mana keresahan itu harusnya menjadi keresahanku juga. Aku harus cepat sadar dari bicaraku yang makin melebar.
Tak lain tak bukan adalah soal hubungan yang sudah lama usianya. Yang harus segera diseriuskan. Tapi apa daya, cambukan itu kenyataannya berhasil memecah batu dalam alam sadarku. Bahwa aku juga harus beranjak dari diriku yang sekarang. Aku harus siap menjadi apa, dan menjadi siapa untuk bisa tampil di depan keluarganya. Jelas aku iri dan kalah besar dengan kebanyakan orang yang berada pada posisi siap mempersunting kekasihnya. Jika aku yang sekarang berbicara masa depan itu, suram jadinya jika kuteruskan dengan reputasi dan kemapanan yang terbata-bata. "Aku adalah pria yang menolak kemapanan" ternyata hanyalah alibi belaka dari realita yang rupanya berkata "aku adalah pria sampah yang tak bisa meniti karir hingga mapan." Aku terjebak dalam ‘Penalty Zone’ itu sendiri. Kenapa aku terinspirasi untuk membuat istilah itu? Karena aku mengalaminya. Sampai saat ini. Zona nyaman dan kehura-huraan masih menjadi teror yang nikmat untuk dijalankan.
Aku menjaga spiritnya. Aku memotivasinya untuk terus bangkit dan tidak termakan keresahan. Keyakinan yang dari dulu dirajut dan saat ini hampir pudar, haruslah diganti dengan keyakinan baru yang menyatakan bahwa hari ini aku telah siap, dan hari ini aku telah cukup memadai untuk depertemukan, atau mempertemukan.
Sepulangnya dari situ, sepanjang perjalananku hanyalah mengawang cambukan keresahan baru. Ya, aku juga harus segera membangkitkan diri. Berhijrah dari kedunguanku menikmati zona nyaman, ke suatu perubahan yang membuat aku terlihat mapan. Aku harus meniti karir dari sekarang. Aku harus menjadi pria yang menikmati kemapanan karena kesiapan. Bukan karena titipan.
Tapi keresahan tetaplah keresahan. Yang meluapkan akan tetap mengisak tangis, dan yang mendengarkan akan tetap teriris. Malam hanya menjadi lamunan. Selain tak ada lagi yang bisa kulakukan dari sekarang, tulis-menulislah yang kini menjadi pelampiasan. Dibawah hujan yang masih turun, ada do’a yang kupanjatkan berlantun. Dibawah malam yang anginnya dingin, ada harap yang kuimpikan terjalin. Dibawah bulan yang malu-malu karena awan hujan, ada titik-titik takdir yang kuharap bisa sejalan. Dan dibawah tangismu yang mungkin masih belum mereda, ada belaian tanganku yang terasa lewat udara.
Orang-orang banyak yang bilang padaku, bahwa mereka suka mendalami kepedihan untuk merasakan manisnya pembelajaran. Tapi nyatanya, dalam hujan mereka berteduh tak berkemampuan.


  
  Bandung Kulon,
  24, Januari 2020

-Fakhri N. Asmah-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar