PENALTY ZONE
Aku sadari betul bahwa
usiaku tidak lagi muda. Sudah saatnya untukku menghentikan segala hura-hura.
Menempa diriku menuju ke level yang satu tingkat lebih serius, sebab kenikmatan
masa muda adalah fana. Jika terjebak dalam zonanya yang nyaman, mati kita menggigit
telunjuk di hari tua. Hiburan pada dasarnya memang selingan. Saat kita lelah,
saat kita bosan, saat kita diserang suntuk yang tak berkehabisan dalam
hari-hari penuh kesibukan. Bukankah hiburan juga suatu kesibukan yang
dikerjakan? Ya, memang betul. Tapi ada kesibukan yang lebih bernilai dari
sekedar hiburan. Aku pernah menulis beberapa butir kalimat di sebuah linimasa
sosial media. “Terkadang beberapa manusia
lebih memilih diam dalam kekalahannya oleh zona nyaman, yang justru itu akan
membawa mereka ke arah mati. Aku lebih suka menyebutnya dengan sebutan ‘Penalty Zone’.
Hujan turun deras malam ini.
Kompak dengan tangismu yang pecah juga malam ini. Entah karena menangisi agungnya
keresahan yang diungkapkan padaku, atau karena menangisi rasa kecewa yang tak
mampu meluap sehabis responku keluar saat ceritamu tertutur. Tepat saat
sebelumnya kita mempertemukan dua rasa rindu yang kita sepakati untuk
dituntaskan dengan sebuah temu. Satu sampai dua jam kita bersua dan bercerita
penuh canda. Meski awalnya kata maafku lah yang pertama muncul sebab aku
terlambat menemuimu. Setelah semua itu, di satu momentum, kau meminta izin
untuk mencurahkan keresahan yang kerap kau idap bermalam-malam. Aku
mengizinkan, aku mendengarkan. Tapi reaksiku begitu berlebihan. Aku berbicara
penuh semangat, yang tak hanya menyemangati, tapi juga mungkin kau bisa
menilaiku sebagai motivator gadungan, yang dalam pandangmu menerka-nerka isi
pikiranku saat itu. Jelas, di lain sisi, ada tamparan keras menghujam
kenyataan. Bahwa aku disadarkan oleh keresahan orang lain, bukan keresahan yang
muncul dari dalam diriku. Sang motivator gadungan tunggang langgang mendapati
lawan bicaranya mengungkap keresahannya, yang mana keresahan itu harusnya
menjadi keresahanku juga. Aku harus cepat sadar dari bicaraku yang makin
melebar.
Tak lain tak bukan
adalah soal hubungan yang sudah lama usianya. Yang harus segera diseriuskan.
Tapi apa daya, cambukan itu kenyataannya berhasil memecah batu dalam alam
sadarku. Bahwa aku juga harus beranjak dari diriku yang sekarang. Aku harus
siap menjadi apa, dan menjadi siapa untuk bisa tampil di depan keluarganya.
Jelas aku iri dan kalah besar dengan kebanyakan orang yang berada pada posisi
siap mempersunting kekasihnya. Jika aku yang sekarang berbicara masa depan itu,
suram jadinya jika kuteruskan dengan reputasi dan kemapanan yang terbata-bata. "Aku adalah pria yang menolak kemapanan"
ternyata hanyalah alibi belaka dari realita yang rupanya berkata "aku adalah pria sampah yang tak bisa meniti
karir hingga mapan." Aku terjebak dalam ‘Penalty Zone’ itu sendiri. Kenapa aku terinspirasi untuk membuat
istilah itu? Karena aku mengalaminya. Sampai saat ini. Zona nyaman dan
kehura-huraan masih menjadi teror yang nikmat untuk dijalankan.
Aku menjaga spiritnya.
Aku memotivasinya untuk terus bangkit dan tidak termakan keresahan. Keyakinan
yang dari dulu dirajut dan saat ini hampir pudar, haruslah diganti dengan
keyakinan baru yang menyatakan bahwa hari ini aku telah siap, dan hari ini aku
telah cukup memadai untuk depertemukan, atau mempertemukan.
Sepulangnya dari situ,
sepanjang perjalananku hanyalah mengawang cambukan keresahan baru. Ya, aku juga
harus segera membangkitkan diri. Berhijrah dari kedunguanku menikmati zona
nyaman, ke suatu perubahan yang membuat aku terlihat mapan. Aku harus meniti
karir dari sekarang. Aku harus menjadi pria yang menikmati kemapanan karena
kesiapan. Bukan karena titipan.
Tapi keresahan tetaplah
keresahan. Yang meluapkan akan tetap mengisak tangis, dan yang mendengarkan
akan tetap teriris. Malam hanya menjadi lamunan. Selain tak ada lagi yang bisa
kulakukan dari sekarang, tulis-menulislah yang kini menjadi pelampiasan.
Dibawah hujan yang masih turun, ada do’a yang kupanjatkan berlantun. Dibawah
malam yang anginnya dingin, ada harap yang kuimpikan terjalin. Dibawah bulan
yang malu-malu karena awan hujan, ada titik-titik takdir yang kuharap bisa
sejalan. Dan dibawah tangismu yang mungkin masih belum mereda, ada belaian
tanganku yang terasa lewat udara.
Orang-orang banyak yang
bilang padaku, bahwa mereka suka mendalami kepedihan untuk merasakan manisnya
pembelajaran. Tapi nyatanya, dalam hujan mereka berteduh tak berkemampuan.
Bandung Kulon,
24, Januari 2020
-Fakhri N. Asmah-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar