Purnama itu aku hendak pergi untuk menemukan air suci. Selama perjalanan, angin menerpaku sembari melemparkan kelancungan semesta yang memuntahkan tanya. Kini aku penuh dengan sumpah serapah sebab nista dalam nalar mereka.
Oh, adakah dari kalian akan memberi iba?
Tersesat, ya. Pada paruh jalan justru kutemui para babi laknat yang menerkam, memperkosa. Mengkoyak-koyak raga. Bukan inginku jua melepas busana.
Aku tak berdaya.
Sial! Aku lupa bahwa dunia tak hanya memiliki satu rupa.
Kini aku merintih, tangisku semakin menjadi ketika meratapi jasadku yang semakin hilang keruan.
Lewat di depanku seorang pemuka agama penuh dengan sorban. Dengan bengis ia menatapku sinis dan menyembunyikan uluran tangan. Darinya kutemukan bahwa sorban bukan jaminan dekat dengan Tuhan.
Tuhan... Oh, Tuhan...
Tak lama datang seorang pengemis menghampiriku. Pakaian kumuh alakadarnya serta celana robek ia kenakan. Kemudian merogoh isi tasnya lalu memberiku makanan. Jemarinya kasar sisa kerja keras seharian, tapi ruhnya membelai penuh kelembutan. Menarikku untuk berdiri tegak dan mengajarkan kehidupan. Akhirnya kutemukan. Tuhan bersama orang-orang yang kemiskinan.
- Nicky Livya S
Bandung, 03-02-2020.
01:23
Mampirlah, dan tumpahkanlah.
Hanya sekedar coretan tak sarat makna. Kalian bisa membacanya dalam waktu luang, atau bahkan dalam keadaan hati yang enggan bersulang.
Senin, 03 Februari 2020
Sabtu, 25 Januari 2020
MEWUJUDKAN KEHIDUPAN SOSIAL YANG DAMAI DALAM KEBERAGAMAN MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER
Mampirlah, dan tumpahkanlah.
Bandung Timur,
08, September 2019
-Fakhri N. Asmah-
MEWUJUDKAN KEHIDUPAN SOSIAL YANG DAMAI DALAM KEBERAGAMAN MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER
Indonesia
adalah negara kepulauan yang terdiri atas berbagai suku bangsa, bahasa, dan
agama. Pada era pra kemerdekaan nenek moyang kita dahulu hanya mengenal
Sumatera, Jawa, Borneo, Sulawesi, dan seterusnya. Belum ada ikatan persatuan
yang dinamakan Indonesia meskipun gaungnya mulai menggema mendekati era
kemerdekaan. Sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara membuktikan bahwa kita
mampu mendirikan entitas negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) adalah
dengan persatuan.
Kesadaran
berbangsa dan bernegara mulai tumbuh ketika rakyat merasakan pedihnya menjadi
manusia yang terjajah oleh bangsa lain. Sehingga egosentris sukuisme mulai
sedikit banyak luntur demi kemerdekaan bangsa. Pada akhirnya kita mampu meraih
kemerdekaan dengan mengusir penjajah dari bumi nusantara. Semua itu berkat
semangat kebersamaan, persatuan dan kesatuan. Namun di era pasca kemerdekaan
hingga sekarang ini, tidak dapat dihitung berapa jumlah pasti peristiwa konflik
yang terjadi di Indonesia. Perang antar kampung beda etnis, perseteruan antar
kelompok ideologi, pertikaian pemuda lintas agama, dan masih banyak lagi
sejarah kelam konflik bangsa ini yang bersumber pada akar perbedaan suku, ras,
agama, dan golongan.
Apa
sebenarnya yang terjadi pada bangsa kita setelah kemerdekaan yang telah
berhasil kita raih dengan bibit persatuan? kemana persatuan dan kesatuan bangsa
yang selama ini telah ditumbuhkan oleh nenek moyang kita dahulu? Kita semua
tentu menyadari tak ada satupun yang bisa merubah sejarah kelam konflik antar
saudara sebangsa. Kita juga tak akan sudi jika bangsa kita selalu saja menjadi
bahan tontonan bangsa lain ketika kita sibuk berseteru. Oleh karenanya kita
perlu menatap masa depan dengan penuh harapan bahwa bangsa kita bisa tetap
bersatu dan bersaudara dalam keberagaman. Salah satu caranya adalah dengan
menanamkan nilai-nilai toleransi, semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan
peduli sosial terhadap anak-anak bangsa penerus masa depan negara kita.
Pertanyaannya
adalah apa yang harusnya kita lakukan sebagai orang tua untuk menanamkan
nilai-nilai yang diperlukan agar bangsa kita dapat bersatu di masa depan?
Jawaban yang paling masuk akal adalah dengan konsep pendidikan. Konsep
pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan karakter. Pendidikan karakter ini
memuat delapan belas nilai positif yang diantaranya adalah nilai-nilai
toleransi, semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan peduli sosial. Nilai-nilai
inilah yang diperlukan untuk mewujudkan kehidupan yang damai, bersatu, rukun,
dan saling menghargai dalam keberagaman. Serta rasa untuk tidak merasa unggul
atas perbedaan diri dengan lainnya akan membentuk mental saling menghargai.
Nilai
toleransi dibutuhkan untuk menanamkan sifat saling menghargai, menghormati, dan
tenggang rasa bagi sesama. Meskipun berbeda suku, agama, warna kulit, dan lain
sebagainya. Jika toleransi antar umat beragama, suku, dan lainnya dapat
dibangun maka selanjutnya diteruskan dengan semangat kebangsaan dengan
kesadaran bahwa kita adalah satu bangsa dan tanah air. Jika toleransi, semangat
kebangsaan, dan cinta tanah air telah terdoktrin dalam jiwa anak-anak kita maka
yang berikutnya adalah kepedulian sosial antar sesama manusia. Jika kesemua
aspek tersebut dapat diwujudkan, maka bukan mustahil jika di masa depan kita
semua dapat hidup berdampingan dalam keberagaman tanpa adanya rasa benci dan
permusuhan satu dengan lainnya.
Bandung Timur,
08, September 2019
-Fakhri N. Asmah-
ANGKAT MINUMANMU
Mampirlah, dan tumpahkanlah.
ANGKAT MINUMANMU
Tidur bersama serakan sampah saja nona
Kita semua sama-sama hina
Tak ada kicauan burung pada hatimu
Setiap ucap sayang terdengar muak di telingamu
Lupakan sejenak semua ingin
Berkawanlah dengan gelap serta dingin
Masalah biar mengepul di udara
Sedihmu juga sementara
Sadarilah bahwa perutmu sudah terkikis
Dan malam terlalu larut untuk kau beri tangis
Persetan dengan validasi
Kelak yang hilang bereinkarnasi
Gagal itu biasa
Tetaplah hidup meski putus asa
Jangan lupakan sarang
Kau kan temukan jalan pulang
Kota Bandung,
18, Januari 2020
-Nicky Livya S.-
JERIT AKSARA
Mampirlah, dan tumpahkanlah.
JERIT AKSARA
Darimana bintang-bintang itu mendapatkan cahayanya?
Aku hendak meminta, lalu kuberikan pada tunawisma di pinggir kota.
Darimana purnama mendapatkan indahnya?
Aku hendak meminta, dan kutebar pada ladang sawah agar para petani itu selalu berbahagia.
Andai saja para bangsat yang bernama birokrat itu mencuri untuk kepentingan rakyat.
Andai saja para unggas yang memakai jas itu mendengar tangis para jelata yang memelas.
Dasi didapatkan dengan mudahnya hanya dengan basa-basi.
Sedang mereka yang mengembara tetap saja sengsara.
Kota Bandung,
22, Januari 2020
-Nicky Livya S.-
PROSES-PROSES BERULANG DALAM EVOLUSI SOSIAL BUDAYA
Mampirlah, dan tumpahkanlah.
PROSES BERULANG DALAM EVOLUSI
SOSIAL BUDAYA
Perhatian terhadap
proses-proses berulang dalam evolusi
sosial-budaya, belum lama mendapat perhatian dari ilmu antropologi.
Perhatian itu sebenarnya timbul bersama dengan perhatian ilmu antropologi terhadap
faktor individu dalam masyarakat, yaitu sejak masa sekitar 1920. Sebelum tahun
1920, sebagian besar dari para sarjana antropologi hanya memperhatikan
adat-istiadat yang lazim berlaku dalam suatu masyarakat yang menjadi objek
penelitiannya. Sikap, perasaan, dan tingkah laku khusus para individu dalam
masyarakat tadi yang mungkin saja bertentangan dengan adat istiadat yang lazim,
diabaikan saja atau tidak mendapat perhatian layak. Tindakan individu warga
masyarakat yang menyimpang dari adat istiadat umum seperti teruai sebelumnya,
pada suatu ketika dapat banyak terjadi dan dapat sering berulang (recurrent) dalam kehidupan sehari-hari
di setiap masyarakat di dunia. Memang, sikap
individu yang hidup dalam banyak masyarakat terutama adalah mengingat
keperluan diri sendiri, dengan demikian ia sedapat mungkin akan mencoba
menghindari adat atau aturan bila tidak cocok dengan keperluan pribadinya. Ini
terpaksa kita akui dan dapat dilihat di sekitar kita sendiri atau dalam
kehidupan masyarakat kita sendiri. Di seluruh dunia tidak ada suatu masyarakat
yang semua warganya seratus persen taat kepada adat untuk selamanya. Kita
mengerti bahwa justru keadaan-keadaan yang menyimpang dari adat ini sangat
penting artinya, karena penyimpangan demikian merupakan pangkal dari
proses-proses perubahan kebudayaan masyarakat pada umumnya.
Sudah
tentu masyarakat pada umumnya tidak membiarkan saja penyimpangan-penyimpangan
dari warganya itu, dan itulah sebabnya pada tiap masyarakat ada alat-alat
pengendalian masyarakat yang bertugas untuk mengurangi penyimpangan tadi.
Masalah ketegangan antara keperluan individu dan masyarakat selalu akan ada
dalam tiap masyarakat, dan walaupun ada kemungkinan bahwa ada suatu masyarakat
yang tenang untuk suatu jangka waktu tertentu, tetapi pada suatu saat, tentu,
ada juga berbagai individu yang membangkang, dan ketegangan-ketegangan
masyarakat akan menjadi recurrent
lagi. Akhirnya, kalau penyimpangan-penyimpangan tadi pada suatu ketika menjadi
demikian recurrent sehingga
masyarakat tidak dapat mempertahankan adatnya lagi, maka masyarakat terpaksa
memberi konsekuensinya, dan adat serta aturan diubah sesuai dengan desakan
keperluan-keperluan baru dari individu-individu dalam masyarakat. Tiap kali ada
pengaduan, kepala adat akan memberi keputusannya menurut kebijaksanaannya,
dengan mengingat situasi-situasi yang khusus dan keputusan-keputusan yang lalu.
Kalau keputusan hokum adat terakhir ini dianggap sebagai keputusan yang sangat
memuaskan dan tidak menimbulkan ketegangan lagi, maka keputusan itu akan
menjadi suatu adat yang baru untuk masa selanjutnya, sampai pada suatu saat di
hari kemudian terjadi penyimpangan baru, ketegangan baru, dan keputusan baru
yang akan melahirkan adat baru pula.
Perubahan-perubahan
kecil serupa itu hanya dapat dilihat dengan peninjauan secara detail
menggunakan “alat mikroskop” oleh para peneliti masyarakat, tidak akan tampak
pada orang lain yang hanya meninjau masyarakat dari luar, dari jauh, atau yang
memang membutakan diri untuk penyimpangan-penyimpangan yang kecil itu. Walaupun
demikian dalam jangka waktu yang panjang, banyak perubahan kecil dalam
adat-istiadat suatu masyarakat akan mulai tampak pula dari luar sebagai suatu
perubahan yang besar.
Faktor
ketegangan antara adat-isitiadat dari suatu masyarakat dengan keperluan para
individu didalamnya itu menyebabkan perlu adanya dua konsep yang harus
dibedakan dengan tajam oleh para peneliti masyarakat, terutama para ahli
antropologi dan sosiologi. Konsep antara dua wujud dari tiap kebudayaan, yaitu
:
(1) kebudayaan sebagai suatu kompleks dari konsep
norma-norma, pandangan-pandangan, dan sebagainya yang abstrak (yaitu sistem
budaya).
(2) kebudayaan sebagai suatu rangkaian dari
tindakan yang konkret dimana individu saling berinteraksi (yaitu sistem
sosial). Kedua sistem tersebut sering ada dalam keadaan konflik satu
dengan lain, dan suatu pengertian
mengenai konflik antara kedua sistem yang ada dalam tiap masyarakat itu menjadi
pangkal untuk mencapai pengertian mengenai dinamika masyarakat pada umumnya.
Bandung Kulon,
16, Desember 2019
-Fakhri N. Asmah-
SIKSAAN MANIS ITU RINDU NAMANYA
Mampirlah, dan tumpahkanlah.
SIKSAAN MANIS ITU RINDU NAMANYA
Kau tau kenapa
aku susah tidur? Karena rindu yang terngiang ini menolak untuk dipejamkan.
Sekalinya aku tertidur, rindu ini membentuk bayang-bayang nyata pada mimpi
lelapku. Pada akhirnya, kembali akan memunculkan kerinduan baru. Sama saja,
rindu itu menyiksa. Namun, jika ada siksaan yang nikmat dihalusinasikan, itulah
rindu. Terkadang aku selalu ingin mengajakmu mampir ke singgasana hatiku.
Main-mainlah disana. Hatiku memang tak mewah nan megah. Tapi disana, kau akan
jumpai ribuan visual dirimu yang secara sengaja atau tidak telah kupajang di
dinding-dinding memori yang orang sebut kenangan. Sampai kau sendiri bosan,
mengapa harus selalu bayangmu sendiri yang muncul disana. Seperti aku, yang
menikmati kebosanan itu. Hari demi hari, hujan demi hujan.
Berbicara hujan,
aku meyakini bahwa yang turun dari langit bukanlah sekedar air. Tapi ada pecut
kenangan yang turun bersamaan dengannya. Dalam hujan, orang-orang melamun di
kejauhan. Dalam hujan, orang-orang merenung di kesepian. Dalam hujan, aku
meninju wajahku sendiri dengan kerinduan.
Rindu tidak hanya
muncul karena sulitnya sebuah temu. Tapi rindu juga bisa hadir karena sebuah
keinginan yang tak enggan terwujud. Atau merasakan kembali apa yang sudah lama
tak dirasa. Aku tau dalam setiap tatap kita terhalang oleh ruang dan waktu.
Tapi dengan kebaikan do’a, kita sama-sama melambai pada rasa yang tersampaikan,
meski kerap kita hirau dengan alibi khayalan. Maka begitu berengseknya seorang
insan yang merindu, tetapi ia tak sedikitpun mengutip do’a pada apapun yang
bisa ia tuangkan. Puisi, lagu, atau lamunan. Begitu jahatnya ia jika tak ada
harap yang bisa termaktub dalam awang-awangnya.
Aku sepakat
dengan judul buku dari seorang penulis. “Seperti
dendam, rindu harus dibayar tuntas”. Aku sepakat
betul. Karena jika tak segera dituntaskan, rindu akan membuat kita melayang
bergentayangan. Mencari jawaban pasti akan teror-teror yang selalu hadir dalam
lamunan, maupun impian. Terlelap dalam tidur atau tersentak dalam sadar, di isi
kepala pasti akan selalu muncul bayang-bayang itu. Setidaknya, jika tidak
dengan temu, harus ada sebuah momentum untuk meluapkan perasaan itu. Agar
semuanya lega. Agar semuanya tak menjadikan beban pikiran yang dirasa harus
diselesaikan. Karena merindu tanpa bertemu atau berucap, itu seperti sebuah
lagu yang tercipta namun tak pernah dinyanyikan.
Tapi sialnya,
kebanyakan rindu muncul saat kita merasakan kehilangan. Sepakat atau tidak,
kembali pada kenyataan diatas. Rindu bisa juga hadir karena sebuah rasa ingin
mengulang kembali apa yang pernah terjadi. Kebersamaan akan terasa begitu
bermakna ketika kita merasakan kehilangan. Akan terasa begitu berharga ketika
kita menjumpai takdir untuk bersua dengan perpisahan. Dan kehilangan, akan
terasa bermakna saat kita saling merindukan. Bayang-bayang paling nyata yang
menyiksa, adalah keinginan untuk memeluk dirinya di dunia nyata setelah kita
menjumpainya dalam bayang mimpi atau khayal ketidaknyataan. Aku meyakini betul
atas apa yang kulakukan. Semakin besar rasa rindu yang kuidap, semakin membusa
juga do’a yang terucap. Meski hanya sekedar tatap, bayangan itulah yang akan
hadir dan menetap. Tak hanya dalam mimpi yang tak nyata, ia menghantui pula
saat aku membuka mata.
Aku adalah pria
terlemah. Memimpikanmu sekali saja, membuatku terlihat lunak berkali-kali. Aku
seperti orang gila yang kehilangan kewarasan. Atau aku seperti singa yang
kehilangan keberanian. Terkadang aku malu pada diriku sendiri yang selalu tak
berhasil menggawangi rindu. Tapi begitulah kenyataannya. Saat aku menutup mata,
aku melihatmu, meski samar. Dan saat aku membuka mataku, aku merindukanmu,
meski liar.
Aku selalu kalah
oleh rindu. Karena ia begitu curang cara bermainnya. Bagaimana bisa aku tak
menyebutnya curang, sedang ia selalu bertambah tanpa tahu cara untuk berkurang.
Curang.
Sebagai makhluk
sosial, kita memang tak bisa hidup sendirian. Terkadang kita butuh kehadiran
orang-orang tertentu untuk mengurangi rasa jemu. Tak harus dengan temu, asalkan
bisa mereda candu, itu dirasa sudah cukup menekan rindu. Rindu tak harus dengan
orang spesial. Dengan dosa saja, kita bisa merasakan rindu. Seperti aku yang merindukan masa muda,
padahal aku tau betul bahwa masa mudaku mengandung banyak khilaf dan lupa.
Bahagia itu
pilihan. Rindu itu batu loncatan. Jika kau bahagia saat memeluk dan membayangkan
kerinduanmu, berarti kau telah siap dengan ketidakmampuanmu. Sebab kau memilih
untuk tetap tinggal di batu loncatan. Ingat, itu pilihan. Semoga kita
baik-baik saja dengan segala pilihan yang kita buat.
Bandung Kulon,
25, Januari 2020
-Fakhri N. Asmah-
Jumat, 24 Januari 2020
PENALTY ZONE
Mampirlah, dan tumpahkanlah.
PENALTY ZONE
Aku sadari betul bahwa
usiaku tidak lagi muda. Sudah saatnya untukku menghentikan segala hura-hura.
Menempa diriku menuju ke level yang satu tingkat lebih serius, sebab kenikmatan
masa muda adalah fana. Jika terjebak dalam zonanya yang nyaman, mati kita menggigit
telunjuk di hari tua. Hiburan pada dasarnya memang selingan. Saat kita lelah,
saat kita bosan, saat kita diserang suntuk yang tak berkehabisan dalam
hari-hari penuh kesibukan. Bukankah hiburan juga suatu kesibukan yang
dikerjakan? Ya, memang betul. Tapi ada kesibukan yang lebih bernilai dari
sekedar hiburan. Aku pernah menulis beberapa butir kalimat di sebuah linimasa
sosial media. “Terkadang beberapa manusia
lebih memilih diam dalam kekalahannya oleh zona nyaman, yang justru itu akan
membawa mereka ke arah mati. Aku lebih suka menyebutnya dengan sebutan ‘Penalty Zone’.
Hujan turun deras malam ini.
Kompak dengan tangismu yang pecah juga malam ini. Entah karena menangisi agungnya
keresahan yang diungkapkan padaku, atau karena menangisi rasa kecewa yang tak
mampu meluap sehabis responku keluar saat ceritamu tertutur. Tepat saat
sebelumnya kita mempertemukan dua rasa rindu yang kita sepakati untuk
dituntaskan dengan sebuah temu. Satu sampai dua jam kita bersua dan bercerita
penuh canda. Meski awalnya kata maafku lah yang pertama muncul sebab aku
terlambat menemuimu. Setelah semua itu, di satu momentum, kau meminta izin
untuk mencurahkan keresahan yang kerap kau idap bermalam-malam. Aku
mengizinkan, aku mendengarkan. Tapi reaksiku begitu berlebihan. Aku berbicara
penuh semangat, yang tak hanya menyemangati, tapi juga mungkin kau bisa
menilaiku sebagai motivator gadungan, yang dalam pandangmu menerka-nerka isi
pikiranku saat itu. Jelas, di lain sisi, ada tamparan keras menghujam
kenyataan. Bahwa aku disadarkan oleh keresahan orang lain, bukan keresahan yang
muncul dari dalam diriku. Sang motivator gadungan tunggang langgang mendapati
lawan bicaranya mengungkap keresahannya, yang mana keresahan itu harusnya
menjadi keresahanku juga. Aku harus cepat sadar dari bicaraku yang makin
melebar.
Tak lain tak bukan
adalah soal hubungan yang sudah lama usianya. Yang harus segera diseriuskan.
Tapi apa daya, cambukan itu kenyataannya berhasil memecah batu dalam alam
sadarku. Bahwa aku juga harus beranjak dari diriku yang sekarang. Aku harus
siap menjadi apa, dan menjadi siapa untuk bisa tampil di depan keluarganya.
Jelas aku iri dan kalah besar dengan kebanyakan orang yang berada pada posisi
siap mempersunting kekasihnya. Jika aku yang sekarang berbicara masa depan itu,
suram jadinya jika kuteruskan dengan reputasi dan kemapanan yang terbata-bata. "Aku adalah pria yang menolak kemapanan"
ternyata hanyalah alibi belaka dari realita yang rupanya berkata "aku adalah pria sampah yang tak bisa meniti
karir hingga mapan." Aku terjebak dalam ‘Penalty Zone’ itu sendiri. Kenapa aku terinspirasi untuk membuat
istilah itu? Karena aku mengalaminya. Sampai saat ini. Zona nyaman dan
kehura-huraan masih menjadi teror yang nikmat untuk dijalankan.
Aku menjaga spiritnya.
Aku memotivasinya untuk terus bangkit dan tidak termakan keresahan. Keyakinan
yang dari dulu dirajut dan saat ini hampir pudar, haruslah diganti dengan
keyakinan baru yang menyatakan bahwa hari ini aku telah siap, dan hari ini aku
telah cukup memadai untuk depertemukan, atau mempertemukan.
Sepulangnya dari situ,
sepanjang perjalananku hanyalah mengawang cambukan keresahan baru. Ya, aku juga
harus segera membangkitkan diri. Berhijrah dari kedunguanku menikmati zona
nyaman, ke suatu perubahan yang membuat aku terlihat mapan. Aku harus meniti
karir dari sekarang. Aku harus menjadi pria yang menikmati kemapanan karena
kesiapan. Bukan karena titipan.
Tapi keresahan tetaplah
keresahan. Yang meluapkan akan tetap mengisak tangis, dan yang mendengarkan
akan tetap teriris. Malam hanya menjadi lamunan. Selain tak ada lagi yang bisa
kulakukan dari sekarang, tulis-menulislah yang kini menjadi pelampiasan.
Dibawah hujan yang masih turun, ada do’a yang kupanjatkan berlantun. Dibawah
malam yang anginnya dingin, ada harap yang kuimpikan terjalin. Dibawah bulan
yang malu-malu karena awan hujan, ada titik-titik takdir yang kuharap bisa
sejalan. Dan dibawah tangismu yang mungkin masih belum mereda, ada belaian
tanganku yang terasa lewat udara.
Orang-orang banyak yang
bilang padaku, bahwa mereka suka mendalami kepedihan untuk merasakan manisnya
pembelajaran. Tapi nyatanya, dalam hujan mereka berteduh tak berkemampuan.
Bandung Kulon,
24, Januari 2020
-Fakhri N. Asmah-
Langganan:
Postingan (Atom)





